KabarMedis – Jantung mendadak berdebar kencang, napas terasa sesak, tubuh gemetar, lalu muncul ketakutan yang sulit dijelaskan. Bagi orang yang mengalaminya, serangan panik bisa terasa sangat nyata dan menakutkan. Namun, dari luar, reaksi tersebut kadang dianggap berlebihan atau sekadar bentuk kecemasan biasa.
Kesalahpahaman seperti ini membuat orang yang mengalami panic attack tak jarang harus menghadapi dua hal sekaligus: gejala yang mengganggu dan penilaian dari lingkungan sekitar. Padahal, serangan panik tidak sesederhana seseorang yang terlalu banyak berpikir atau kurang mampu menenangkan diri.
Gejala Serangan Panik Tidak Selalu Sama
Ada orang yang merasakan jantung berdebar hebat, sementara yang lain mengalami pusing, berkeringat, gemetar, mual, atau sensasi seperti kehilangan kendali. Sebagian juga merasa seolah-olah sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Itulah sebabnya, gejala panic attack tidak bisa disamaratakan. Seseorang mungkin mengalami beberapa gejala sekaligus, sedangkan orang lain merasakan kombinasi yang berbeda. Intensitasnya pun tidak selalu sama pada setiap episode.
Jika keluhan muncul berulang atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu mencari tahu penyebabnya.
Baca juga: Bukan Antisosial! Social Anxiety Bisa Membuat Obrolan Biasa Terasa seperti Ujian Mental
Benarkah Serangan Panik Cuma Reaksi Berlebihan?
Anggapan ini masih sering muncul ketika seseorang tiba-tiba menangis, terlihat ketakutan, atau kesulitan mengatur napas. Padahal, serangan panik dapat muncul dengan atau tanpa pemicu yang jelas. Stres dan situasi tertentu bisa berperan, tetapi tidak semua episode memiliki penyebab yang mudah dikenali.
Meminta seseorang untuk langsung tenang juga belum tentu membuat gejalanya mereda. Kalimat seperti “Jangan lebay” atau “Kamu cuma kurang piknik” justru bisa membuat mereka merasa tidak dipahami.
Jika menemui seseorang dalam kondisi tersebut, cobalah berbicara dengan suara tenang dan tanyakan apakah mereka ingin ditemani. Tidak perlu buru-buru memberi ceramah atau menyuruh mereka mengendalikan diri.
Panic Attack atau Serangan Jantung? Jangan Asal Menebak
Jantung berdebar dan sesak napas memang bisa muncul saat serangan panik. Masalahnya, keluhan serupa juga dapat terjadi pada kondisi medis yang serius, termasuk serangan jantung.
Karena itu, serangan panik dan serangan jantung tidak boleh dibedakan hanya berdasarkan perkiraan. Nyeri dada baru, sesak napas berat, pingsan, atau gejala yang terasa tidak biasa perlu mendapatkan penilaian medis segera. Jika dicurigai sebagai keadaan darurat, hubungi layanan kegawatdaruratan setempat.
Lebih baik memastikan kondisi melalui pemeriksaan daripada menganggap semua keluhan fisik sebagai akibat kecemasan.
Mengalami Panic Attack Bukan Berarti Punya Gangguan Panik
Satu hal yang juga sering keliru dipahami adalah anggapan bahwa setiap orang yang mengalami serangan panik pasti memiliki gangguan mental.
Faktanya, satu episode serangan panik tidak otomatis berarti seseorang mengalami panic disorder atau gangguan panik. Diagnosis tersebut membutuhkan penilaian profesional berdasarkan pola gejala dan kondisi orang yang bersangkutan.
Jika serangan terjadi berulang, diikuti kekhawatiran terus-menerus, atau membuat seseorang mulai menghindari aktivitas tertentu, berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah yang tepat.
Baca juga: Anxiety Bukan Drama Pikiran! 11 Fakta Kecemasan yang Bisa Diam-Diam Mengacaukan Hidup
Berhenti Menghakimi, Mulai Memahami
Orang yang mengalami serangan panik tidak selalu membutuhkan nasihat panjang. Terkadang, mereka hanya perlu didengarkan tanpa dianggap berlebihan. Tanyakan bantuan apa yang dibutuhkan, beri ruang jika diperlukan, dan jangan memaksakan cara tertentu untuk menenangkan mereka.
Memahami cara membantu orang yang mengalami serangan panik dimulai dari hal sederhana: tidak meremehkan pengalaman mereka. Sebab, dukungan yang tepat bukan soal menganggap semua gejala sebagai masalah psikologis, melainkan mengetahui kapan harus menemani dan kapan bantuan medis diperlukan.